Harga Gambir Capai tingkat teratas

>> Sabtu, 18 April 2009

Setelah beberapa bulan yang lau harga Gambir di Kapur IX merosot, namun sekarang harga gambir di Kapur IX sudah mulai membaik, seperti di nagari Mauro Ppada minggu pertama bulan april kemaren, harga gambir sudah mencapai 30 ribu per kilogram, dan untuk gambir tipe lumpang sudah mencapai harga tertinggi yaitu Rp.38.000 per kg.
semoga harga gambir ini mengalami kenaikan setiap waktunya, karena kehidupan masyarakat Kapur IX bergantung pada sektor Gaambir.
dan untuk harga Karet di kapur IX masih cukup rendah yaitu kisaran 6000/kg.
jadi masayrakat sudah mulai beralih ke Ladang gambir.

Read more...

GAMBIR, MUTIARA BARU DARI SUMATERA BARAT

>> Selasa, 24 Maret 2009

Masih banyak Sumber Daya Alam di Indonesia yang belum dimaksimalkan sebagai komoditi Ekspor. Salah satunya adalah tanaman gambir. Bisnis ukm telah menemukan betapa potensialnya Sumber Daya ini untuk digunakan dalam memenuhi berbagai kebutuhan industri luar negeri ataupun dalam negeri.

Gambir memang jarang ada yang mengenalnya, tidak seperti tanaman jarak, ataupun kelapa sawit yang telah dimanfaatkan potensial produknya. Kini Sumatera Barat sebagai penghasil Gambir terbanyak, memiliki produk unggulan yang dapat dimaksimalkan sebagai pemasukan Pendapatan Daerah.

Produk Gambir

Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.). Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan pada menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih.

Gambir dibudidayakan pada lahan ketinggian 200-800 m diatas permukaan laut. Mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Budidaya biasanya semiintensif, jarang diberi pupuk tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan. Di Sumatra kegiatan penanaman ini sudah mengganggu kawasan lindung.

Hampir 95% produksi dibuat menjadi produk ini, yang dinamakan betel bite atau plan masala. Bentuk cetakan biasanya silinder, menyerupai gula merah. Warnanya coklat kehitaman. Gambir (dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai gambier) biasanya dikirim dalam kemasan 50kg. Bentuk lainnya adalah bubuk atau “biskuit”. Nama lainnya dalah catechu, gutta gambir, catechu pallidum (pale catechu).

Kandungan yang utama dan juga dikandung oleh banyak anggota Uncaria lainnya adalah flavonoid (terutama gambiriin), katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%), serta sejumlah alkaloid (seperti gambirtannin dan turunan dihidro- dan okso-nya. Selain itu gambir dijadikan obat-obatan modern yang diproduksi negara jerman, dan juga sebagai pewarna cat, pakaian

Umumnya, gambir dikenal berasal dari Sumatera Barat. Terutama dari Kabupaten 50 Kota. Sebagai sentra penghasil gambior, Kabupaten 50 Kota merupakan lokasi yang strategis dan cocok untuk investor perkebunan. Harga jualnya di tingkat petani per kg adalah IDR 5.000 hingga IDR 20.000; di pasaran ekspor harganya berkisar dari USD1,46 hingga USD2,91. Ekspor gambir juga menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Gambir dapat dipanen 2 hingga 4 kali dalam setahun selama 15 tahun sejak pertama dipanen tetapi seperti komoditi unggulan lainnya diberbagai daerah, Tanaman gambir di Sumatera Barat juga mengalami masalah klasik yaitu terjadi fluktuasi harga ditingkat petani yang berdampak langsung bagi kesejahteraan petani.(hn.Humas.PPHP)

Kegunaan / Manfaat

Kegunaan utama adalah sebagai komponen menyirih, yang sudah dikenal masyarakat kepulauan Nusantara, dari Sumatra hingga Papua sejak paling tidak 2500 tahun yang lalu. Diketahui, gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan); penyamak kulit; dan bahan pewarna tekstil untuk industri batik. Selain itu juga gambir digunakan penduduk sebagai ramuan untuk mengkonsumsi sirih dan obat untuk sakit perut.

Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel. Produk ini masih harus bersaing dengan sumber perekat kayu lain, seperti kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa, serta kulit polong Caesalpinia spinosa yang dihasilkan negara lain.

Penyebaran Gambir

Bila ditinjau dari ketersediaan lahan di Sumatera Barat maka terlihat adanya keterbatasan. Sekitar 60 persen dari lahan yang ada merupakan perbukitan dan lahan miring dan 15 persen saja yang telah disepakati untuk lahan pertanian. Secara keseluruhan hanya tersedia sekitar 450.000 ha lahan yang potensial untuk perluasan tanaman perkebunan.

Di Sumatera Barat tanaman gambir tumbuh dengan baik didaerah Limapuluh Kota, Pesisir Selatan dan daerah tingkat II lainnya. Di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 11.937 Ha dengan produksi 7.379 ton pertahun. Di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 24.69 Ha dengan produksi 688 ton pertahun dan Kabupaten lainnya seluas 175 Ha yang sebahagian besar belum berproduksi.

Kabupaten 50 Kota terletak di bagian timur wilayah Provinsi Sumatera Barat atau 124 km dari Kota Padang, ibu kota provinsi. Luas wilayahnya 3.354,30 km persegi, terbagi dalam delapan kecamatan dengan 180 desa dan 505 dusun. Payakumbuh, ibu kota Kabupaten Limapuluh Kota dapat dicapai dalam waktu setengah jam dengan mencarter kendaraan dari Bukittinggi yang berjarak 33 km.

Luas diatas potensial dan memenuhi skala ekonomi untuk dikembangkan. Jumlah unit usaha pengolahan gambir di Sumatera Barat tercatat sebanyak 3571 unit dengan tenaga kerja 6908 orang dan investasi Rp 1.029.614.000. Data produksi gambir di Sumatera Barat sebenarnya belum tersedia dengan lengkap, khususnya untuk konsumsi dalam negeri. Bila berpedoman kepada angka produksi tahun 1997 dan angka ekspor pada tahun yang sama maka 98 persen produksi gambir diekspor dan 2 persen dikonsumsi dalam negeri.

Komoditi Ekspor

Tidak banyak Propinsi di Indonesia yang mampu menjadikan komoditasnya menjadi komoditas unggulan yang mampu mendominasi pasar dunia. Salah satunya adalah Sumatera Barat dengan tanaman gambir. Tanaman Gambir atau uncaria gambir roab merupakan komoditas unggulan propinsi Sumatera Barat yang mampu memasok 90 persen kebutuhan pasar dunia dengan tujuan utama ke India, Pakistan, Singapura, Thailand dan Malaysia.

Dari data tahun 2005 Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Barat total luas areal tanaman gambir di Sumatera Barat adalah 19.658 dengan Daerah penghasil utama tanaman ini di adalah Kabupaten 50 Puluh Kota seluas 13.558 Ha dan di kabupaten pesisir selatan seluas 4.714 Ha dan sisanya tersebar di delapan kabupaten lainnya di Sumatera Barat. Realisasi ekspor gambir pada tahun 2003 mencapai US$.668,523 kemudian meningkat sebesar 44,6 % pada tahun 2004 menjadi US$.967,000 (bisnis-18 Okt 2005). dan pada tahun 2005 total nilai ekspor sebesar USD.622,460.00 dengan pencapaian produksi sebesar 13.249 Ton.

Gambir bersama dengan karet, semen, dan kayu lapis termasuk dalam 10 komoditas utama ekspor Sumatera Barat. Untuk ekspor, gambir dikirim melalui Medan, sedangkan untuk pasaran dalam negeri dikirim ke Jakarta. Volume ekspor gambir Provinsi Sumatera Barat tahun 2000 besarnya 1.339.860 kg. Nilai ekspor komoditas yang diekspor ke India, Singapura, dan Pakistan ini 1.808.503 dollar Amerika.

Bila gambir yang diekspor tersebut digunakan sebagai bahan baku perekat kayu lapis didalam negeri maka baru akan memenuhi kebutuhan tiga pabrik kayu lapis yang berkapasitas 5000-6000 m3/bulan. Hal ini akan masih tetap terlalu sedikit dibanding kebutuhan pabrik kayu lapis dan papan partikel yang ada di Pulau Sumatra. Dan gambir dapat diolah didalam negeri menjadi bentuk yang lain dari sekarang, seperti bentuk biskuit dan tepung gambir sesuai dengan permintaan pasar dunia. Negara India saja membutuhkan gambir sebanyak 6000 ton pertahun. Terlihat bahwa prospek luar negeri masih terbuka.

Klasifikasi ilmiah tanaman Gambir

Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Famili : Rubiaceae
Genus : Uncaria
Spesies : U. gambir
Nama binomial : Uncaria gambir

sumber http://bisnisukm.com/tanaman-gambir-mutiara-baru-dari-sumatera-barat.html

Read more...

Petani Tak Berdaya Tentukan Harga Gambir

>> Jumat, 20 Maret 2009

LIMAPULUH KOTA, SENIN - Petani gambir di Nagari Durian Tinggi Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, tidak berdaya menentukan harga jual gambir. Mereka umumnya mendapatkan harga sesuai dengan keinginan para pengepul.

Wali Nagari Durian Tinggi, Ardianto, Senin (9/3), mengatakan petani tidak mempunyai daya tawar ketika berhadapan dengan para pengepul. Selain itu, petani tidak mempunyai pilihan lain untuk menjual gambir kecuali ke pedagang yang datang ke nagari mereka.

Kalau sedang ada pengepul dari luar daerah ini, harga gambir bisa terdongkrak naik karena ada peningkatan permintaan. "Tapi, ketika tidak ada pedagang lain yang datang ke sini, pengepul yang bermukim di kecamatan ini membeli gambir petani dengan harga rendah," papar Ardianto.

Harga gambir terendah yang pernah dialami oleh petani mencapai Rp 6.000 per kilogram. Bila sedang baik, harga gambir bisa mencapai Rp 30.000 per kilogr am. Saat ini harga gambir berkisar antara Rp 25.000-27.000 per kilogram.

Untuk nagari ini saja, hasil gambir mencapai 36 ton per minggu. Di Durian Tinggi, sekitar 80 persen dari 700 keluarga mendapatkan penghasilan utama dari gambir.

Kondisi yang dialami petani gambir ini jauh berbeda dibandingkan pedagang di pertokoan. Bila berbelanja di toko, harga jual barang ditentukan oleh pedagang yang mempunyai barang. Namun, dalam pertanian, petani umumnya harus tunduk dengan harga yang disodorkan pembeli atau pengepul.

Read more...

Pengolahan Gambir

>> Selasa, 10 Maret 2009

Gambir merupakan sejenis getah yang telah diendapkan yang diperoleh dari pengolahan daun dan ranting tanaman gambir. Daun dan ranting tanaman gambir ini diproses dengan cara tertentu sehingga diperoleh cairan yang mengandung getah. Cairan itu diendapkan beberapa waktu sehingga akan terjadi pemisahan antara air dan getah.
Ada dua cara pengolahan gambir yang dilakukan, yaitu: Pengolahan gambir secara pribumi dan pengolahan gambir secara Cina.
a. Pengolahan gambir secara pribumi
Cara ini adalah pengolahan yang dikembangkan ditingkat petani dengan pengeluaran getah melalui pengempaan. Pengolahan dilakukan dengan cara daun dan ranting direbus, dilakukan pengempaan, selanjutnya diendapkan dan ditiriskan hingga membentuk padatan atau pasta. Pasta kemudian dicetak dengan cetakan bambu dan kemudian dikeringkan.
b. Pengolahan gambir secara Cina
Cara ini merupakan cara yang dikerjakan oleh keturunan Cina di Indonesia. Proses pengolahan dimulai dari pemisahan daun dan ranting, kemudian dicuci terlebih dahulu. Perebusan dilakukan selam ½ jam sambil diaduk-aduk dan dimemarkan dengan kayu. Ekstraknya diambil dan daunnya dimasukkan kembali kedalam perebusan. Ekstraknya dikentalkan dan dipanaskan, lalu disaring. Keringkan sampai suhu 35 o C sambil diaduk-aduk. Akan diperoleh ekstrak yang berwarna kuning kecoklatan. Kemudian dicetak membentuk balok gambir atau cube gambir. Untuk pembuatan balok gambir, ekstrak dituangkan kedalam catakan kayu dan dibiarkan selama 10–12 jam hingga menjadi bongkahan yang agak padat. Kemudian dipotong-potong menurut keinginan dan dijemur dibawah cahaya matahari (Darsani, 1999 ).

Read more...

Panen Gambir




Tanaman gambir umumnya sudah bisa dipanen pada umur 1 – 2 tahun tergantung pada tingkat pertumbuhannya. Panen berikutnya bisa dilakukan setelah 5 – 6 bulan tergantung pada kondisi tanaman. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong ranting-ranting dan daunnya ( tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda ) dengan pisau atau ani-ani. Panjang potongan adalah 40 – 60 cm dari ujung daun atau 5 cm dari panjang batang. Ini dimaksudkan agar tunas baru pada ketiak ranting dapat tumbuh dengan baik.
Daun dan ranting yang dipanen tersebut biasanya dimasukkan kedalam keranjang rotan atau keranjang bambu untuk selanjutnya dibawa kepondok pengempaan untuk dilakukan pengolahan. Selanjutnya hasil panen gambir harus segera diolah karena semakin lama getahnya akan berkurang.
Jangka waktu panen tidak boleh terlalu jarak, karena banyak daun akan menjadi tua dan gugur, disamping itu kandungan dari getah daun yang sudah tua akan berkurang

Read more...

Botani dan Ekologi Gambir



Menurut Sastrappradja et al ( 1980 ) tanaman gambir ditemukan tumbuh liar di hutan Sumatera, Kalimantan, dan di Semenanjung Malaya, disamping itu gambir juga ditanam di Jawa, Bali dan Muluku. Tanaman ini umumnya tumbuh baik pada ketinggian 200 – 800 meter di atas permukaan laut, ketinggian tanaman gambir bisa mencapai 10 meter. Tanaman gambir ( Uncaria gambir Roxb) termasuk suku kopi-kopian. Bentuk keseluruhan tanaman ini seperti pohon bougenvil, yaitu merambat dan berkayu. Daunnya kaku seperti kulit berbentuk lonjong sampai lancip berujung runcing. Bungannya putih berupa bunga tunggal tumbuhnya diketiak-ketiak daun maupun pada ujung tangkai dan berbuah ( LBN,1978 ).
Tanaman gambir dapat tumbuh pada semua jenis tanah, tanah liat ringan, geluh berpasir dan intensitas cahaya matahari yang cukup banyak.
Adapun klasifikasi dari gambir ( Uncaria Gambir Roxb ) dapat ditampilkan pada tabel –

1.Divisi Spermatophyta

Klas Angiospermae
Sub-klas Monocotyledonae
Ordo Rubiales
Famili Rubiceae
Genus Uncaria
Spesies Uncaria gembir Roxb
Tabel -1. Klasifikasi tanaman gambir
Di bawah ini adalah gambar dari tanaman gambir.








2.3 Kandungan Kimia Gambir
Kandungan utama gambir adalah catechin dan asam catech tannat. Gambir mengandung bermacam – macam komponen, antara lain : catechin, asam catechutannat, guersetin, catechu merah, gambir fluoresein, abu, asam lemak, lilin, alkaloid tanin.
Komponen yang terkandung dalam gambir dapat dilihat pada tabel- 2 :


No Nama Komponen Persentase

1 Catechin 7-33
2 Asam Catechu Tannat 20-55
3 Pyrocatechol 20-30
4 Gambir fluoresensi 1-3
5 Catechu merah 3-5
6 Quersetin 2-4
7 Fixed Oil 1-2
8 Lilin 1-2
9 Alkaloid Sedikit

Tabel -2. Komponen-komponen kimia yang terdapat dalam gambir (Novezar Nazir,2000).

Read more...

SEJARAH GAMBIR DI KAPUR IX




Gambir merupakan komoditi tradisional Indonesia dimana tanaman gambir di Kapur IX dikenal sejak masa penjajahan belanda, sekitar abad – 17. Bahkan berladang gambir menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat Kapur IX. Masyarakat menanamnya dengan menyemaikan bibit. Daun dan ranting tanaman ini digunakan sebagai obat-obatan. Seiring perkembangan perdagangan hasil bumi maka masyarakat Kapur IX pun mulai mengolah gambir sehingga dapat dijual sampai saat ini. Perkembangan gambir telah menjadi komoditi ekspor.

Read more...

Recent Comments

Recent Comments

Recent Post

  © Free Blogger Templates Joy by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP